Betapa sulitnya menghilangkan stigma (Bag.1)

Perjalanan hidup pasien gangguan jiwa,

(the real story illustrations).

"Apa kabar Bu Y baru datang lagi yaa , dua minggu disini kan” , suara lirih itu terdengar keluar dari mulut seorang laki laki bertubuh jangkung, berkulit putih menyapaku dengan tersenyum ramah dengan lesung pipit dan berusaha menyalami tanganku. Kubalas sapaannya dengan menyalami kembali, “ kabar baik mas T, mas T bagaimana selama ini nampaknya sehat ya,senang bertemu lagi”, sungguh aku tak kan pernah melupakannya setiap tahun aku datang ke RS “X” ini, dia selalu menyambutku dengan ramah dan tidak pernah lupa dengan namaku. Aku mengenalnya sejak tahun 1995 saat itu dia sudah menjadi pasien disana terdiagnosa PK. Saat kenal pertama kali dia dalam kondisi tenang, mungkin diagnosa yang tepatnya saat itu adalah RPK. Ntah bagaimana ketika setiap datang kesana aku suka mengobrol asyik dengannya yang sebetulnya melakukan pengkajian karena lebih tepatnya “T” merupakan pasien anak didikku.

Terhadapnya aku selalu menganggap dia seolah olah bukan seorang pasien jiwa, tapi pasien sakit biasa saja ngobrolpun nyambung, kooperatip walaupun gejala PK masih ada tampak sedikit dari tatapan matanya ketika dia menceritakan hal yang tidak ia sukai. Setiap tahun bertemu pasti ada kemajuan. Dan aku menganggap dia wajar dan normal. Banyak sudah kuketahui tentang riwayat hidupnya dan aku berusaha empati. Terakhir aku bertemu tahun 2017 kemarin. Dia tampak baik, sehat dengan penampilan selalu rapih dan bersih dan aku juga tahu kenapa dia selalu ada dan tidak pulang, secara finansial kebutuhannya selalu terpenuhi karena dana untuknya tidak pernah kurang selalu dipenuhi oleh keluarganya kecuali satu, kepulangannya kembali pada keluarga tidak diharapkan. Dia sadari itu dan dia pun tidak mau pulang atau bertemu dengan keluarganya. Dia sudah memutuskan betah di RS karena merasa diterima dan nyaman dengan situasinya saat ini.

Alasannya patut kita hargai menurutnya kehadiran dia dikeluarganya sangat tidak diharapkan apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, tak ada satu orangpun yang peduli padanya, begitupun tetangganya ketika pulang, dia berusaha adaptasi malah yang diterima kata kata umpatan “ awas orang gila”, orang gila, kata kata si “gila”itu melekat tak dapat terhapuskan, meskipun sudah berusaha sabar tapi kalau dibombardir terus menerus saya tak tahan lagi…keluhnya,saya ingin balik lagi kelingkungan yang menerima saya dan membuat nyaman…itu ungkapan “T” , meski usianya yang semakin tua, tapi setidaknya dia jauh merasa berharga dengan aktifitas sehari harinya, bisa membantu kebutuhan teman teman senasib yang memerlukan bantuaannya. Diagnosa terakhir “T” adalah HDR. Ada beberapa kasus seperti”T” walaupun dengan alasan berbeda, seperti Tn A, tidak bisa kembali lagi karena tidak ada keluarga, kerabat lagi dan lingkungannya yang dapat dihubungi sekalipun petugas sudah berusaha untuk itu, hingga Tn A seolah olah menjadi warga abadi mempertaruhkan sisa hidupnya dengan memberikan bantuan yang tentu saja sangat terbatas kemampuannya tanpa ada pilihan selain mempertahankan hidupnya. Demi kesinambungan pengobatan dan kemudian siapa yang harus mengurus dia sehari-hari. Kemudian kegiatannya apa, kalau gak ada pekerjaan, haruskah kembali melamun lagi, berhalusinasi lagi, sakit lagi..?

DESTIGMASI GANGGUAN JIWA, Stigma adalah suatu “label” yang pada banyak hal mengarah untuk merendahkan orang lain (Sane Risearch, 2009). Ketika kita bicara tentang gangguan jiwa, maka yang tergambar dalam pikiran kita adalah sosok menakutkan berkelakuan aneh dan bicara sendiri bayangan tadi menciptakan kata kata seperti ”gila”, “miring atau saraf” yang pada akhirnya melahirkan stigma di khalayak umum (Smith & Casswell, 2010). Masyarakat seringkali memiliki persepsi negatif terhadap kegilaan. Orang gila dianggap sebagai orang yang tidak waras,sinting dan ungkapan lainnya. Sikap masyarakat dalam merespon kehadiran gangguan jiwa terjadi akibat kontruksi pola berpikir yang salah karena ketidak tahuan publik. Terdapat logika yang salah di masyarakat, Mispersepsi tersebut selanjutnya berujung pada tindakan yang tidak membantu percepatan kesembuhan si penderita.

Masyarakat cendrung menganggap orang dengan kelainan mental sebagai sampah sosial yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota. Pola pikir demikian harus didekontruksi (kompas,2014). Salah kaprah pengertian dan pemahaman penyakit jiwa ini karena ketidak tahuan masyarakat pada kejiwaan dan kesehatan mental sehingga terjadi persepsi keliru bahwa penyakit merupakan aib bagi penderita dan keluarganya. Sehingga penderita gangguan jiwa harus disembunyikan atau dikucilkan bahkan lebih parah lagi ditelantarkan oleh keluarganya, dipasung, diperlakukan kasar. Perlakuan kasar seringkali dilakukan oleh anak anak dengan melemparinya, mengejek. Diskriminasi dan Stigmatisasi diperlakukan secara tidak pantas dan tidak manusiawi.

Akibatnya perlakuan tak manusiawi kerap juga mereka terima, seperti memasung, mengucilkan dan menganggap mereka tidak ada. Tanpa disadari dan laik diketahui bahwa orang dengan permasalahan kesehatan jiwa di dunia memang terus merangkak naik angkanya setiap tahun, termasuk di Republik ini, mulai gangguan jiwa ringan, seperti depresi hingga berat, seperti skizofrenia. Berdasarkan data, ada sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang mengalami bipolar, 21 juta menderita skizofrenia, dan 47,5 juta mengidap dimensia. Sementara prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang. Angka itu sekitar 6 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu orang atau sebanyak 1,7 per mil atau 1.000 penduduk. Jumlah kasus gangguan jiwa berat terbanyak di Yogyakarta dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), masing-masing 2,7 per mil, menyusul Sulawesi Selatan sebanyak 2,6 per mil, Bali dan Jawa Tengah masing-masing sekitar 2,3 per mil (Riskesdas 2014).

Namun bukan berarti tak ada provinsi lain di negeri ini yang angka penderitanya lebih tinggi dari kedua provinsi tersebut. Ini karena di Aceh dan Yogyakarta, sistem pencatatan kesehatannya sudah baik, sehingga banyak yang terdata,( Fidiansjah, SpKJ, MPH.2016). Untuk orang orang yang merasa sehat fisik, mental, sosial dan spiritual, terutama masyarakat oleh karena itu diharapkan untuk tidak berpandangan negatif terhadap mereka yang sudah sembuh, dan seharusnya dapat membantu menerima mereka untuk kembali hidup dengan masyarakat. Sekalipun dengan gejala sisa yang masih tampak. Setiap orang pasti tak ingin mengalami gangguan jiwa. Namun, keadaan terkadang tak mampu membuat orang terhindar dari kondisi gangguan kejiwaan. Tingkat stres yang berlebihan karena suatu sebab yang sangat mengganggu fisik dan psikis merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan seseorang kemudian terkena gangguan jiwa.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas

+62 21 3446463

Senin-Jumat 07.00-16.00

info@akperrspad.ac.id

online support