Pemberian Makanan Pendamping ASI yang Sesuai Sebagai Salah Satu Upaya Mencegah Stunting

Status nutrisi menjadi salah satu indikator laju pertumbuhan dan perkembangan anak-anak (Torlesse, Cronin, Sebayang, & Nandy, 2016). Menurut WHO (2009), pada enam bulan pertama kehidupan anak, ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Setelah usia enam bulan, anak membutuhkan makanan pendamping karena ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Selain itu, pada usia enam bulan, kemampuan makan anak sudah mulai berkembang dan anak mulai menunjukkan minat pada makanan selain ASI (Stewart et al., 2013). Masa pemberian makanan pendamping merupakan jangka waktu yang penting bagi masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Nutrisi yang adekuat selama masa kandungan dan masa awal kanak-kanak adalah hal penting dalam mendukung pertumbuhan, kesehatan, dan perkembangan anak-anak dalam mencapai potensinya yang optimal (Zhao et al., 2016).

Anak yang berada pada periode usia 6-24 bulan merupakan periode penting bagi masa pertumbuhan dan perkembangan anak karena apabila pemberian makanan yang tepat secara kualitas dan kuantitas, maka dapat menimbulkan malnutrisi (WHO, 2009). Salah satu dampak panjang dari malnutrisi adalah stunting (pendek). Stunting dapat didiagnosis menggunakan indeks antropometri tinggi badan menurut umur (Manary dan Salomons, 2009). Menurut WHO, seorang anak dikatakan pendek (stunting) ketika tinggi badan mereka terhadap usia nilainya kurang dari -2 standar deviasi (SD). Stunting sering bermula dari awal kehidupan, umumnya sejak masa kehamilan dan berlanjut selama dua tahun pertama kehidupan (Bhutta et al., 2013). Praktik pemberian makanan pendamping ASI yang tepat memberikan kontribusi yang positif bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi dan juga proses tumbuh kembang anak.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kassa et al. (2016) pada ibu-ibu yang memiliki balita usia 6-24 bulan sebanyak 611 orang, pelaksanaan pemberian makanan pendamping dihubungkan dengan beberapa faktor, diantaranya usia ibu yang berada di rentang usia 25-29 tahun sebanyak 36,7%, pendidikan ibu yang sebagian besar adalah sekolah dasar (42%), dan pelaksanaan perawatan antenatal (90,5%). Tiga faktor tersebut berhubungan langsung dengan pelaksanaan pemberian makanan pendamping pada balita usia 6-24 bulan yang sesuai.

WHO telah mengeluarkan indikator dalam pemberian makanan pendamping, yaitu pengenalan terhadap struktur makanan padat, semi padat, dan lunak yang ditujukan untuk anak usia 6-8 bulan, keberagaman jenis makanan, frekuensi makan, dan toleransi jumlah makan yang diterima anak selain ASI. Keberagaman makan yang dimaksud adalah sekurangnya anak mendapatkan 4 dari 7 jenis makanan yang dianjurkan, yaitu zat arang, kacang-kacangan, produk susu, protein hewani, telur, sayur dan buah yang banyak mengandung vitamin A, serta sayur dan buah lainnya (Kassa et al., 2016). Pemberian makanan pendamping, tidak hanya dilihat dari komposisi makanan yang diberikan kepada anak, tetapi juga pertimbangan waktu pengenalan makanan pertama kali. Pengenalan makanan pendamping yang terlalu dini atau terlambat berhubungan dengan beberapa dampak di tahun-tahun berikutnya. Sarwar (2002) dalam Zhao et al. (2016) menyatakan bahwa bayi yang dikenalkan dengan makanan pendamping sebelum usia enam bulan dapat berpotensi timbulnya penyakit pada saluran pernafasan akibat alergi bahan makanan. Sebaliknya, pengenalan makanan pendamping yang terlambat atau lebih dari usia 6 bulan dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak adekuat. Hal tersebut dapat mengarahkan kepada perkembangan kemampuan makan anak dan kemampuan motorik oral anak yang terlambat (Stevenson et al., 1991, dalam Zhao et al., 2016).

Pemberian makanan pendamping yang sesuai berkaitan dengan perilaku makan seorang anak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Myanmar oleh Zhao et al. (2016), waktu pengenalan makanan pendamping kepada anak merupakan salah satu hal yang termasuk dalam perilaku makan. Dari total responden 807 anak yang diteliti, 32% baru mulai dikenalkan dengan makanan pendamping pada usia di atas enam bulan. Hal tersebut sudah termasuk dalam kategori terlambat. Hal tersebut juga dapat memicu timbulnya perilaku makan yang menyimpang di tahun-tahun berikutnya, seperti terlambatnya perkembangan perilaku makan anak yang berkaitan dengan keterlambatan perkembangan kemampuan makan anak. Sementara itu 18% diidentifikasi telah mendapat makanan pendamping sebelum usia enam bulan. (Zhao et al, 2016). Durasi pemberian ASI juga berhubungan dengan perilaku makan seorang anak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zhao et al. (2016), dari total responden 455 anak, diidentifikasi anak-anak yang mendapatkan ASI kurang dari enam bulan sebesar 14,6%, sedangkan 63,4% mendapatkan ASI selama lebih dari 18 bulan dan sisanya sebanyak 22% mendapatkan ASI selama enam bulan sampai dengan kurang dari 18 bulan. Pemberian makanan pendamping mulai dari anak berusia enam bulan yang disertai dengan pemberian ASI sampai dengan usia anak 2 tahun merupakan strategi intervensi yang disarankan oleh WHO (2009). Hal tersebut diidentifikasi dapat meningkatkan status nutrisi pada anak sehingga menurunkan angka kejadian stunting terutama di negara-negara berkembang (Kassa et al., 2016).

Issaka et al. (2015) menyatakan bahwa keberagaman jenis makanan juga menentukan pelaksanaan pemberian makanan pendamping yang sesuai pada anak usia 6-24 bulan. Hal tersebut dinyatakan berhubungan dengan kualitas diet secara umum, asupan mikronutrien pada anak, dan status nutrisi yang lebih baik pada anak. Pada negara-negara berkembang, ketersediaan makanan yang beragam terhalang oleh status ekonomi warga negara tersebut. Ketidakmampuan rumah tangga menyediakan makanan pendamping yang beragam bagi balita mengakibatkan kebutuhan mikronutrien balita tersebut tidak dapat terpenuhi secara optimal. Hal tersebut yang akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga memungkinkan meningkatkan angka stunting (Issaka et al., 2015).

Peningkatan angka kejadian stunting menjadi perhatian bagi UNICEF. Dalam rangka menurunkan angka kejadian stunting, UNICEF mengeluarkan bagan kerja yang terdiri dari empat bagian. Empat bagian tersebut adalah kebijakan mengenai kesehatan masyarakat, pemberian edukasi pada orang tua, praktik keperawatan antenatal (kehamilan), dan penyediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang baik (Zanello, Srinivan, & Shankar, 2016). Keempat bagian dari bagan kerja UNICEF tersebut disesuaikan dengan faktor-faktor yang berhubungan dan yang mempengaruhi kejadian stunting (Stewart, 2013). Empat bagian dari bagan kerja UNICEF tersebut kemudian diterapkan di beberapa negara dan diturunkan melalui beberapa kegiatan di masyarakat, salah satunya adalah Kamboja. Pemerintah Kamboja melaksanakan kegiatan dalam rangka menurunkan angka kejadian di negara tersebut melalui pemberian bubuk multiple micronutrien untuk balita-balita usia 6-24 bulan, sosialisasi praktik makanan pendamping ASI, dan pelaksanaan manajemen penatalaksanaan pada malnutrisi akut. Hasil penelitian yang dilakukan ileh Zanello et al. (2016), ketiga kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah Kamboja telah berhasil menurunkan angka kejadian stunting dari awalnya 51% pada tahun 2000 menjadi 34% pada tahun 2014.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan angka kejadian stunting yang cukup tinggi juga melakukan upaya dalam rangka menurunkan angka kejadian stunting. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka menurunkan angka kejadian stunting adalah melalui program kesehatan gizi berbasis masyarakat (PKGBM). Kegiatan dari program tersebut diantaranya adalah perbaikan status gizi dan peningkatan akses sanitasi. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka perbaikan status gizi adalah dengan sosialisai praktik pemberian makanan pendamping yang sesuai sehingga tujuan penurunan angka kejadian stunting dapat tercapai (Torlesse et al., 2016). Belum ada hasil penelitian terbaru yang menunjukkan efektivitas pelaksanaan PKGBM terhadap penurunan angka kejadian stunting di Indonesia.

Daftar Pustaka

Issaka, A. I., Agho, K. E., Page, A. N., Burns, P. L., Stevens, G. J., & Dibley, M. J. (2015). Comparison of complementary feeding indicators among children aged 6-23 moths in Anglophone and Francophone West African countries. Maternal and Child Nutrition, 11. 1-13.

Kassa, T., Meshesa, B., Haji, Y., & Ebrahim, J. (2016). Appropriate complementary feeding practice and associated factors among mothers of children age 6-23 months in Southern Ethiopia 2015. BMC Pediatrics, 16, 131-141.

Kyle, T., & Carman, S (2017). Essentials of pediatric nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Manary, M. J., & Solomons, N. W. (2009). Gizi kesehatan masyarakat, gizi dan perkembangan anak. Penerbit buku kedokteran EGC. Terjemahan public health nutrition Editor. Gibney, M. J., Margetts, B. M., Kearney, J. M., & Arab, L. Blackwell Publishing Ltd, Oxford.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2013). Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.

Senarath, U. (2012). Comparison of complementary feeding indicators and associated factors in children aged 6-23 months across five South Asian countries. Maternal and Child Nutrition, 8, 89-106.

Stewart, C. P., Ianotti, L., Dewey, K. G., Michaelsen, K. F., & Onyango, A. W. (2013). Contextualising complementary feeding in a broader framewrok for stunting prevention. Maternal and Child Nutrition, 9, 27-45.

Torlesse, H., Cronin, A. A., Sebayang, S. K., & Nandy, R. (2016). Determinant of stunting in Indonesian children: evidence from a cross-sectional survey indicate a prominent role for the water, sanitation and hygiene sector in stunting reduction. BMC Public Health, 16, 669-670.

Victora, C.G., de Onis, M., Hallal, P.C., Blossner, M. & Shrimpton, R. (2010) Worldwide timing of growth faltering: revisiting implications for interventions. Pediatrics, 125, e473–e480.

World Health Organization. (2009). Infant and young child feeding: Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. Geneva: WHO.

Zanello, G., Srinivasan, C. S., & Shankar, B. (2016). What explains Cambodia’s success in reducing child stunting 2000-2014. Plos One.

Zhao, A., Gao, H., Li, B., Zhang, J., Win, N N., Wang, P., ..., Zhang, Y. (2016). Inappropriate feeding behaviour: one of the important causes of malnutrition in 6 to 36 month old children in Myanmar. The American Society of Tropical Medicine and Hygiene, 95, 702-708.

Khoirunisa, S.Kep

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas

+62 21 3446463

Senin-Jumat 07.00-16.00

info@akperrspad.ac.id

online support